jump to navigation

No Rain, No Rainbow October 15, 2009

Posted by Arina in Renungan.
trackback

raining1

Hujan oh hujan.

Sebuah maha karya dari Sang Pemilik Semesta.

Entah mengapa, Aku selalu terkagum dengan titik-titik tajam bulir air yang jatuh.

Jatuh, jatuh, dan membentuk riak pada genangan air yang sudah jatuh terlebih dahulu. Seakan air-air itu membawa pergi semua masalahku.

Aku pernah mandi hujan, dulu, waktu aku masih kecil. Sudahnya, aku langsung demam dan pilek.Dan sejak itu, aku kapok! Aku juga pernah terperangkap dalam hujan. Sungguh tidak nyaman! Memakai baju yang basah, dengan rambut lepek seperti tikus got yang abis kesiram air panas, plus sepatu yang kotor karena cipratan air. Tapi aku tetap menyukainya! Bahkan merindukannya, apalagi di musim-musim kemarau.

Aku memiliki banyak kenangan tentang hujan di masa lalu, dengan keluargaku, dengan teman-teman seperjuanganku, dan tentunya dengan orang yang pernah mengisi hatiku. Dan semua terasa sangat membekas. Ketika aku dan keluargaku tinggal di jalan pengantingan, rumah itu kerap bocor. Untuk itu, papa biasanya menaruh ember tepat di bawah bagian plafon yang bocor itu. Lucunya, aku dan kakakku adalah orang yang paling setia nungguin ember tersebut penuh. Kami berjongkok di sisi ember, sambil ketawa-ketiwi gak jelas. Banjir? Oh, pernah juga! Dan lagi-lagi, aku dan kakakku akan membuat perahu kertas, lalu kami jalankan perahu itu dengan membuat ombak kecil dengan lidi. Perahu siapa yang bertahan paling lama, dialah yang keluar sebagai pemenang.

Satu hal yang paling aku suka dari hujan adalah gerimisnya yang tak kunjung reda dari malam hingga Subuh. aku seakan mendengar senandung lirih untaian tasbih dari gemericiknya. Sangat menentramkan kalbu. Ditambah lagi, bau basah dari tanah yang sampai di hidungku akan turut merilekskan syaraf-syarafku. Aku merasa saaaangat damai. Aku akan menghentikan pekerjaanku sejenak, membuka jendela, melihat suasana di luar selama beberapa menit, lalu merenung sejenak.

Tatkala hujan turun tanpa disertai mendung, aku selalu menantikan pelangi. Cukup sulit mendapatkan pelangi dari sini. jadi, jangan heran kalo aku sangat jogol kalo ngeliat pelangi. Hehehe. Eh, eh, karna itulah juga, saya memberi nama ”Pelangi” pada boneka kesayangan saya.

Yang jelas, gak akan ada pelangi kalo gak ada hujan. Gak ada yang namanya senang kalo gak ada sulit. No pain, no gain. No Rain, No Rainbow!

P.S. : hanya satu orang di rumah ini yang sewot kalo hujan datang. Dia adalah Mama! Tanya kenapa, tanya kenapa? jemurannya itu boooook! Kagak kering-kering! Hwhwhw

Comments»

1. Bobby - November 22, 2009

Otomatis nge-link kesini ni, kasi coret-coretan dikit aah..
Hujan tu paling enak kalo pas di rumah, paling nggak enak kalo lagi di jalan, hadaah..
Nanya donk, “jogol” tu apaan ya?